adminch Juli 7, 2018

Belakangan ini memang berasa udara dingin kalau malam sampai pagi, abis itu siang panas terik. Lapan menepis kabar hoax yang mengatakan ini karena Aphelion.

Suhu lebih dingin yang dirasakan beberapa malam terakhir di wilayah Indonesia ternyata bukan akibat kondisi aphelion. Sebelumnya, viral di media sosial bahwa posisi bumi di titik terjauh orbitnya dari matahari menjadi penyebab suhu dingin itu.

sumber fb prof. thomas djamaludin https://www.facebook.com/thomas.djamaluddin

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin meluruskan pemahaman itu. Saat dihubungi Jumat malam, 6 Juli 2018, dia mengatakan, “Perubahan jarak matahari ke bumi tidak terlalu signifikan mempengaruhi suhu permukaan bumi.”

Thomas menjelaskan, suhu udara dipengaruhi distribusi panas di bumi. Saat ini, matahari sedang berada di belahan utara bumi sehingga belahan selatan mengalami musim dingin. “Tekanan udara di belahan bumi selatan juga saat ini lebih tinggi daripada belahan utara,” ujarnya.

Perbedaan itu menyebabkan massa udara bergerak dari selatan ke utara. Massa udara ini pula yang mendorong awan menjauh ke utara sehingga di Indonesia mengalami kemarau.

“Nah, di Indonesia, pada musim kemarau ini, angin datang dari arah Australia yang sedang menjalani musim dingin. Itu sebabnya masyarakat di Jawa pada saat ini mengalami udara yang dingin,” ucap Thomas.

Sebelumnya, beredar di media sosial penjelasan tentang aphelion dan perihelion. Yang pertama disebut sebagai jarak terjauh yang dicapai bumi dalam orbitnya mengelilingi matahari. Sedangkan kebalikannya adalah perihelion, yaitu jarak terdekat bumi dengan matahari.

Di sana disebutkan aphelion terjadi hari ini, Jumat, 6 Juli 2018. “Ada banyak yg ngomong dan nanya, koq dalam beberapa hari terakhir ini dingin bangett ya? Nah ini jawabannya, karena kita di bumi sedang berada di titik aphelion,” demikian bunyi informasi itu.

Bantahan serupa juga disampaikan penggiat astronomi di Bandung, Avivah Yamani. Lulusan Astronomi ITB itu mengatakan, anggapan aphelion menyebabkan suhu bumi mendingin tidak benar, pun tidak ada hubungannya.

Setiap bulan Juli, bumi berada pada posisi terjauh dari matahari sesuai bidang edarnya yang berbentuk elips. Posisi itu di dunia astronomi disebut sebagai aphelion. Isu yang berkembang sekarang, aphelion dipercaya sebagai penyebab suhu dingin 6 Juli 2018 hingga turun drastis di beberapa daerah di Indonesia.

Suhu udara, menurut Thomas Djamaluddin, dipengaruhi oleh distribusi panas di bumi akibat perubahan tahunan posisi matahari. Saat ini matahari berada di belahan utara, sehingga belahan selatan mengalami musim dingin. Tekanan udara di belahan selatan lebih tinggi daripada belahan utara.

Akibatnya angin bertiup dari selatan ke utara. Angin ini pula yang mendorong awan menjauh ke utara sehingga di Indonesia mengalami musim kemarau.

Di Indonesia pada musim kemarau saat ini angin bertiup dari arah Australia yang sedang musim dingin. “Itu sebabnya masyarakat di Jawa pada saat ini mengalami udara yang dingin,” katanya.

Fenomena aphelion bersamaan dengan masuknya musim kemarau di Indonesia. Tony Agus Wijaya, Kepala Stasiun Geofisika Bandung Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, menjelaskan penyebab perbedaan suhu siang dan malam di musim kemarau ini.

Menurutnya, cuaca yang umumnya cerah di siang hari membuat sinar matahari tidak terhalang awan untuk sampai ke permukaan bumi. “Sehingga terasa siang hari lebih terik dan suhu terasa lebih panas,” katanya.

Kemudian saat malam hari, sebagian besar sinar matahari yang mengenai permukaan bumi terpantulkan kembali ke angkasa. Pemantulan itu langsung tanpa terhalang awan, karena langit cerah dan hanya sedikit awan. “Sehingga saat dini hari terasa lebih dingin,” ujar Tony.

Selain itu ada faktor lain. Tiap musim kemarau, angin dominan bertiup dari arah timur atau benua Australia. Angin itu membawa udara dingin. “Saat ini musim kemarau 2018 umumnya normal, tetapi ke depan ada potensi gangguan cuaca jangka pendek yang menyebabkan hujan durasi singkat di musim kemarau,” ujarnya.

tempoco dan berbagai sumber

Thomas menjelaskan, suhu udara dipengaruhi distribusi panas di bumi. Saat ini, matahari sedang berada di belahan utara bumi sehingga belahan selatan mengalami musim dingin. “Tekanan udara di belahan bumi selatan juga saat ini lebih tinggi daripada belahan utara,” ujarnya.

Please follow and like us:

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.