adminch Mei 16, 2018

Bukanlah suatu kebetulan bila serangan bom bunuh diri di tiga gereja pada hari Minggu di Indonesia terjadi ketika umat Islam bersiap memasuki bulan suci Ramadan.

Bagi mereka yang taat, inilah saat untuk beramal, introspeksi, memperbarui dan mendekatkan diri pada Tuhan.

Namun bagi kelompok ISIS, Ramadan dianggap sebagai waktu strategis untuk melakukan serangan. Mereka tampaknya terinspirasi oleh Perang Badar pada tahun 624 M, ketika Nabi Muhammad dan pengikutnya mengalahkan kekuatan yang jauh lebih unggul dan meletakkan dasar bagi pertumbuhan Islam.

Sekitar waktu Ramadan tahun lalu, ISIS juga mengklaim melakukan lebih dari 300 serangan di seluruh dunia.

Serangan mengerikan terhadap gereja pada hari Minggu yang melibatkan anak-anak sebagai pembom bunuh diri, menewaskan 13 orang dan lebih dari 40 luka-luka, juga mengikuti pola lain – sebuah tindak kekerasan yang terkait dengan kelompok teroris di Asia Tenggara.

ISIS telah kehilangan sebagian besar wilayah yang pernah mereka kuasai di Irak dan Suriah, telah secara aktif berusaha memobilisasi dukungan dengan kelompok-kelompok jihadis di negara-negara lain seperti Libya, Yaman, Nigeria dan Bangladesh.

Asia Tenggara, khususnya Filipina dan Indonesia, juga diidentifikasi sebagai target utama kelompok tersebut dalam sebuah artikel di majalah ISIS Rumiyah pada tahun 2017.

Dan dalam perkembangan mengkhawatirkan bagi kawasan ini, jumlah serangan mengalami peningkatan, sebagian didorong oleh kembalinya para pejuang ISIS dari garis depan di Timur Tengah.

Perkiraan konservatif menunjukkan lebih dari 1.000 pejuang dari Asia Tenggara pergi ke Timur Tengah untuk bergabung dengan ISIS selama lima tahun terakhir.

Dari jumlah ini, 700 di antaranya diperkirakan dari Indonesia, sekitar setengahnya laki-laki, selebihnya perempuan dan anak-anak mereka.

75 warga Indonesia lainnya dideportasi dari Turki sebelum dapat masuk ke Suriah.

Jumlah orang Indonesia yang bertempur ke Suriah dan Irak sangat rendah jika mempertimbangkan penduduk Muslim sekitar 225 juta.

(Australia, dengan penduduk Muslim 604.000 lebih, mendapati lebih dari 100 warganya bergabung dalam pertempuran, 87 di antaranya diketahui sudah mati).

Kalangan wartawan dan pakar berpendapat bahwa pluralisme Indonesia berperan penting dalam membatasi membanjirnya pejuang-pejuang ke Timur Tengah.

Namun, seperti tergambar dengan jelas dalam serangan seperti yang terjadi di teater Bataclan di Paris pada tahun 2015, tindakan segelintir pejuang ISIS terlatih dapat berdampak menghancurkan – baik dalam jumlah korban dan dampak politiknya.

Meskipun satuan intelijen Indonesia terlatih secara baik dan berpengalaman bekerja sama dengan negara seperti Australia untuk meningkatkan pembagian informasi lintas batas, namun tidak ada UU yang melarang orang Indonesia bepergian ke luar negeri untuk bergabung kelompok seperti ISIS. Menyatakan dukungan bagi kelompok itu juga tidak dilarang.

Selain itu, masalah perbatasan Indonesia juga sangat rentan, sehingga hampir tidak mungkin mencegah para pejuang yang pulang untuk masuk kembali tanpa diketahui.

Ancaman dari dalam

Awalnya media melaporkan bahwa keluarga pelaku pemboman gereja pada hari Minggu juga telah bertempur di Suriah. Namun klaim ini belakangan ditarik kembali.

Tapi mereka terkait dengan Jemaah Ansharut Daulah (JAD), sebuah organisasi payung yang terdiri dari sejumlah kelompok militan.

Pemimpin JAD, Aman Abdurrahman, ditahan di penjara yang rusuh akibat aksi pengikut ISIS minggu lalu dan menyebabkan kematian sejumlah petugas polisi.

Kelompok militan yang beroperasi di bawah payung JAD relatif otonom dan tidak memiliki banyak interaksi satu sama lain.

Namun hampir pasti, meskipun sulit dibuktikan, para pejuang yang kembali dari Irak dan Suriah telah bergabung dengan kelompok-kelompok itu, dengan pengalaman perang dan keahlian militan mereka.

JAD juga menjanjikan dukungannya kepada ISIS. Ikrar kesetiaan atau baiat untuk pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi mengharuskan mereka menaati perintah Al-Baghdadi, tetapi memberi mereka otonomi untuk melakukan operasi teroris terhadap negara, para musuh dan kaum murtad.

ISIS juga tetap mendapatkan dukungan cukup besar di kalangan masyarakat biasa di Indonesia.

Studi Pew Research menemukan bahwa 4 persen orang Indonesia berpandangan baik terhadap kelompok tersebut. Secara persentase mungkin tampak kecil, tetapi dalam angka itu lebih dari 9 juta orang.

Ketika masyarakat Indonesia semakin konservatif dalam beberapa tahun terakhir, dukungan itu pasti akan tumbuh.

Pemerintah Indonesia menghadapi tantangan signifikan dalam mengatasi masalah kembalinya para pejuang ISIS itu serta ekstremisme kekerasan yang tumbuh di dalam negeri.

Tetapi tidak ada negara yang bisa memerangi terorisme sendirian.

Meskipun Australia dan Indonesia telah bekerja sama dengan baik dalam upaya anti-terorisme, seorang pejabat senior Pemerintah Australia kepada media The Australian hari Senin mengatakan bahwa Canberra akan “menggandakan” kerjasama dengan Jakarta mengatasi kembalinya para pejuang tersebut.

Joshua Roose adalah direktur Institut Agama, Politik, dan Masyarakat pada Universitas Katolik Australia. Artikel ini telah diterbitkan di The Conversation.

Please follow and like us:

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.