adminch Januari 25, 2018

File 20180118 29891 mwnj6m.jpg?ixlib=rb 1.1
Waktunya membangun kepercayaan.
Arthimedes/Shutterstock.com

Barbara Romzek, American University dan Aram Sinnreich, American University School of Communication

Situs web media sosial dan layanan online, dibuat untuk mencetak keuntungan dengan menghubungkan orang-orang dan mendorong percakapan global, memiliki sisi gelap yang dalam dan mencemaskan. Para pengguna yang brengsek mengeksploitasi forum-forum kebebasan berbicara itu dengan cara-cara yang merusak norma-norma bersama keadaban, kepercayaan, dan keterbukaan.

Ini mencakupi tidak saja perisakan (bullying) dan tindakan mempermalukan perorangan, tapi juga mendatangkan kerusakan signifikan bagi masyarakat secara keseluruhan.

Orang Amerika—dan orang dari bangsa-bangsa di seluruh dunia—akan menghabiskan sebagian besar dari 2018 ini dengan membahas cara menangani problem Facebook, Twitter, Google, dan sejenisnya yang menangguk untung besar-besaran tapi juga mengancam demokrasi dan mengikis kepercayaan kepada wacana publik. Sebagai ahli akuntabilitas publik dan sistem media digital, kami menganjurkan agar perusahaan-perusahaan itu mencari cara baru dalam berkompetisi yang memajukan kepercayaan dan akurasi, mendatangkan keuntungan pribadi maupun maslahat umum.

Dosa asal media sosial

Banyak problem yang timbul karena cara perusahaan-perusahaan media sosial bermula, dan bagaimana kekuasaan mereka tumbuh dalam masyarakat. Seperti kebanyakan perusahaan rintisan (startup) Silicon Valley, Google, Facebook, dan Twitter dibesarkan dalam sebuah lingkungan pasar bebas dan libertarian.

Kondisi ini menguntungkan orang dan perusahaan terbaik dalam menyediakan cara-cara yang ampuh dan nyaman bagi orang-orang di seluruh dunia untuk saling terhubung. Namun, cara-cara itu dirancang demi keuntungan para pemegang saham swasta mereka, bukan pemangku kepentingan publik mereka.

Dari algoritme pencarian Google hingga algoritme umpan berita (news feed) Facebook, proses-proses yang membentuk pengalaman online kita tidak saja kompleks dan tertutup, tapi memang sengaja dibuat kabur. Sesungguhnya, itulah model bisnis utama mereka.

Coba pikirkan: Jika setiap orang tahu persis bagaimana algoritme Google bekerja, berbagai situs web tak bermoral bisa meretas jalan mereka menuju daftar pencarian teratas, bukannya mendapat peringkat tinggi dengan meningkatkan produk dan layanan mereka—atau dengan membayar Google agar iklan mereka muncul bersama hasil pencarian. Begitu pula, jika Facebook mengungkapkan metode yang dipakainya untuk menyeleksi item-item yang muncul di umpan berita pengguna, maka para pemilik merek dan penyedia konten tidak perlu lagi membayar perusahaan itu puluhan miliar dolar per tahun untuk menjangkau konsumen mereka di platform tersebut.

Perusahaan-perusahaan itu sudah menjadi luar biasa besar, dengan miliaran pengguna yang menghabiskan waktu berjam-jam sehari di sistem mereka. Bisnis berkembang pesat—tapi tidak adanya transparansi dan akuntabilitas semakin dipahami sebagai sebuah ancaman terhadap masyarakat sipil.

Mencemari ranah publik

Pengikisan keadaban, kepercayaan, dan penghormatan pada kebenaran dalam masyarakat Amerika Serikat itu oleh para ekonom disebut sebagai sebuah “eksternalitas negatif”. Itulah biaya sebuah produk atau jasa yang dibayar oleh masyarakat luas, bukannya perusahaan yang menyuplainya atau konsumen yang membelinya. Sebuah contoh umumnya adalah polusi industri, ketika perusahaan-perusahaan manufaktur tidak membayar biaya problem kesehatan dan lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh polusi dari pabrik mereka.

Perusahaan-perusahaan media sosial meraup untung dengan mengumpulkan informasi personal dan menjual iklan-iklan bersasaran dengan algoritme. Ini memungkinkan munculnya jenis-jenis polusi sosial baru: berita bohong, pesan-pesan sengaja memecah belah yang didistribusikan dengan identitas palsu—bahkan penciptaan peristiwa-peristiwa politik dunia-nyata berdasarkan pesan-pesan palsu dan anti-sosial tersebut.

Persis seperti masyarakat mengharapkan perusahaan-perusahaan minyak untuk memikul tanggung jawab moral dan hukum atas polusi lingkungan hidup jika mereka menumpahkan minyak di lautan dan akuifer, kami yakin perusahaan-perusahaan media sosial harus membantu membereskan dan memerangi polusi sosial yang terjadinya dimudahkan oleh platform mereka.

Akuntabilitas dan transparansi adalah kunci

Dalam pandangan kami, perusahaan-perusahaan media sosial perlu melangkah di luar fondasi-fondasi “pasar bebas” mereka. Seperti serangkaian lembaga lain yang mendasar bagi infrastruktur sosial dan perekonomian kita, mereka seharusnya mengembangkan metode-metode untuk menyediakan transparansi dan akuntabilitas publik yang sangat diperlukan untuk menangani penyakit-penyakit sosial yang dimudahkan kemunculannya oleh platform mereka.

Transparansi adalah cara terbaik menyingkirkan ujaran kebencian dan berita bohong. Tanpa itu, konsumen tidak akan percaya pada kualitas informasi yang mereka terima, atau itikad baik penyedia informasi. Perusahaan-perusahaan media sosial perlu lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat secara keseluruhan, dan menerima tanggung jawab untuk memantau integritas platform mereka sendiri. Mereka harus dianggap bertanggung jawab secara publik atas kapasitas platform mereka yang digunakan dalam cara-cara yang merongrong masyarakat sipil dan lembaga-lembaga politik kita.

Ini bukan usulan sederhana, bukan pula perubahan yang bisa dilakukan platform-platform media sosial dengan membalikkan tangan saja. Tapi dalam pandangan kami, ini mendesak untuk dilakukan.

Facebook sudah memulai proses ini, memungkinkan para pengguna mengidentifikasi semua iklan yang dibeli sebuah laman di seluruh situs, tanpa memandang bahwa iklan-iklan itu bersasaran mikro. Twitter sudah mengambil langkah-langkah serupa. Tapi itu semua hanyalah upaya-upaya awal dalam langkah yang mestinya merupakan proses yang jauh lebih panjang.

Sebuah peluang bisnis baru

Jika perusahaan-perusahaan itu tidak berubah, masyarakat yang menyediakan urat nadi ekonomi mereka akan menyusut dan ambruk. Perombakan adalah kepentingan mereka sendiri—dan kepentingan siapa pun yang lain.

Dalam jangka pendek, perusahaan-perusahaan media sosial harus membuat algoritme mereka, dan data yang mereka analisis, menjadi lebih transparan bagi publik. Salah satu kemungkinannya boleh jadi adalah mengembangkan situs web-situs web tersentralisasi tempat orang bisa memeriksa sumber-sumber konten dan pendanaan untuk iklan.

Sebuah pendekatan yang menjanjikan, saat ini sedang ditempuh di beberapa perusahaan, melibatkan adaptasi algoritme untuk mengurangi dominasi berita bohong yang diunggah di umpan berita pengguna. Namun, meski bermanfaat, prakarsa-prakarsa itu tidak membereskan kontradiksi di jantung media sosial: model-model bisnis berbasis kekaburan mereka berbenturan langsung dengan peran semakin sentral mereka sebagai platform bagi wacana publik dan proses demokrasi.

Dalam jangka panjang, perusahaan-perusahaan besar internet perlu memikirkan kembali strategi mereka secara keseluruhan. Itu berarti mengembangkan model-model bisnis yang mengutamakan transparansi atas kekaburan, aksesibilitas atas ketertutupan, dan akuntabilitas atas akuntasi. Walau ini sangat sulit dipenuhi, kami mengusulkan agar perusahaan-perusahaan media sosial bisa beralih dan berekspansi ke bisnis verifikasi dan sertifikasi.

Tepatnya, apa maksudnya ini? Facebook, Twitter, Google, dan yang lain-lain seperti mereka harus mulai bersaing untuk menyediakan berita-berita paling akurat, bukannya yang paling layak klik, dan sumber-sumber yang paling bisa dipercaya, bukannya yang paling sensasional.

The ConversationBegitu perusahaan-perusahaan itu memahami bahwa memelihara ranah publik yang sehat memberikan hasil yang lebih baik daripada membantu polusi sosial, mereka—dan masyarakat secara keseluruhan—bisa mulai membersihkan kekacauan yang kita buat bersama ini.

Barbara Romzek, Professor of Public Administration and Policy, American University dan Aram Sinnreich, Associate Professor of Communication Studies, American University School of Communication

Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.

Please follow and like us:

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.