Tradisi Memayu dan Filosofi Menata Diri

Sebagai rangkaian persiapan peringatan Maulud Nabi, Keraton Kanoman Cirebon menyelenggarakan ritual Memayu. Tradisi ini dilaksanakan dalam rangkaian menuju peringatan muludan. Atau pada puncaknya nanti disebut panjang jimat.

PATIH Keraton Kanoman Pangeran Raja Muhammad Qodiran didampingi pengawal keraton melakukan ritual syukuran atau berdoa di sembilan lokasi. Lumpang Watu Alu, Bangsal Sekaten, Pangrawit, Prabayaksa, Witana, Pulantara, Bangsal Ukiran, Kedaton dan berakhir di Gedong Pusaka. Tempat-tempat itu disinggahi satu persatu.

Memayu adalah ritual pemeliharaan bangunan-bangunan Keraton oleh para Abdi Dalem dari berbagai daerah. Tradisi Memayu diikuti ratusan orang dan melakukan bersih-bersih area keraton untuk keperluan panjang jimat. “Acara Memayu rutin digelar pada 25 Safar,” ujar Patih Keraton Kanoman Pangeran Raja Muhammad Qodiran, kepada Radar.

Dalam Memayu dilakukan juga renovasi atap rumbia beberapa bangunan untuk dikembalikan sesuai aslinya atau seperti semula. Selain bermakna pembersihan bangunan keraton, Memayu memiliki makna filosofis.

Dalam konteks kekinian, Memayu adalah menata diri, membersihkan, dan menjaga diri agar semakin ‘ayu’, lancar, dan berkah, baik itu ucapan, perilaku dan juga rezeki. “Semua ritual yang dilaksanakan hari ini (Rabu, red) tentunya agar dijauhkan dari marabahaya, malapetak dan bencana,” jelasnya.

Dalam tradisi Memayu, masyarakat dibagikan nasi tumpeng. Nasi tumpeng yang satu ini berbeda, namanya Nasi Bogana. Nasi ini dilengkapi dengan rempah-rempah alam, dan di dalam tumpukannya tersimpan berbagai macam lauk pauk. Istimewanya, nasi itu dipercaya memberi keberkahan pada keturunan keluarga dan kesuburan pada sawah para petani.

Seperti yang diyakini Surniyati (45). Surni bersama temannya rela datang dari Indramayu hanya untuk mengikuti tradisi Memayu dan mendapat keberkahan Nasi Bogana. Warga Kapringan itu tak pernah absen mengikuti tradisi Memayu di Keraton Kanoman setiap tahun.

“Saya percaya, nasi bogana yang udah didoakan sultan raja dapat memberi berkah sesuai apa kebutuhan kita,” pungkasnya. Selain tradisi Memayu, berbagai ritual digelar Keraton Kanoman jelang Maulid Nabi pada 1 Desember mendatang. Ritual yang dilakukan mulai dari ngalus, damel bekaseman ulam, tawurji, ngapem, damel bumbu kebuli, damel banjir, hingga malam panjang jimat.

MIKE DWI SETIAWATI, RadarCirebon.Com

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*