syafii dan Perubahan Zaman, Tip Bisnis Wisata Era Milenial

Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan ITB Ultra Matathon ya. Jadi saya jangan dibilang belum bisa move on dari event ultra marathon yang super heboh minggu yang lalu… he-he-he…

Hari ini saya ngajak istri dan anak saya main ke Lombok. Ini sebuah corrective action, soalnya minggu yang lalu saat istri saya ulang tahun tetapi saya malah nyuekin dia dan lebih mementingkan ITB Ultra Marathon. Eh, ternyata masih ada hubungannya dengan ITB Ultra Marathon ya… :mrgreen:

Saya lebih suka Lombok dibanding Bali karena masih sepi dan pantainya masih asli dan indah. Contohnya Tanjung Aan. Pantainya masih perawan, dan hari Jum’at tadi pengunjungnya hanya saya sekeluarga dan satu keluarga turis dari Jerman. Jadi pantai yang begitu indah itu seolah milik kami berdua saja. Tapi kalau hari Minggu sih katanya pengunjungnya jauh lebih banyak.

Yang menarik, dunia wisata Lombok ini mengajarkan kepada saya tentang reaksi atas perubahan zaman di level akar rumput yang menarik. Ketika kamera Polaroid foto langsung jadi tidak lagi populer, ternyata ada profesi baru yang muncul menggantikannya. Yaitu jasa forografer dan pengarah gaya. Begitu saya turun mobil dan mulai berjalan menuju sebuah bukit di pantai Tanjung Aan, ada 3 anak kecil yang membuntuti kami bertiga. Namanya Syafii, Farhan dan Muris. Syafii menempel saya, Farhan mendekati istri saya, dan Muris menempel Raihan, anak bungsu saya yang hari ini izin tidak masuk sekolah demi menemani Ibunya merayakan ulang tahun di Lombok.

Tadinya saya bingung, ketiga anak ini mau menawarkan jasa apa? Mereka tidak membawa barang dagangan, tapi juga tidak membawa peralatan apapun untuk menawarkan jasa tertentu. Sepanjang perjalanan menuju bukit itu, Syafii malah banyak bercerita tentang iPhone yang saya bawa. Dia cerita tentang kemampuan kamera iPhone yang bagus, dan bercerita panjang lebar mengenai feature panorama dsb. Lalu dia bercerita bahwa dia sudah dipercaya oleh itdc (pengelola pantai Tanjung Aan?) sebagai seorang fotografer yang cukup mumpuni, karena hasil jepretan dia banyak memuaskan pelanggannya. Dari situ saya baru ngeh kalau anak-anak kecil itu ternyata sedang menawarkan jasa sebagai fotografer dan sekaligus pengarah gaya.

Alhasil, selama mengunjungi Tanjung Aan itu kami sekeluarga ditemani private fotografer, satu orang satu fotografer! Dan ternyata, klaim dari Syafii itu bukan isapan jempol belaka. Dia ternyata memang fotografer cilik yang cukup handal, apalagi dia memberikan value added service sebagai pengarah gaya sekalian. Alhasil, dengan menggunakan smart phone dari pelanggan masing-masing, Syafii dkk menjual jasa sebagai private fotographer sekaligus sebagai pengarah gaya. Sebuah respon cerdas dari seorang anak kampung di daerah Lombok dalam menghadapi perubahan zaman. Tanpa mengeluh dan menyalahkan perubahan zaman yang menyingkirkan kamera Polaroid sekali jadi, Syafii dkk dengan cerdasnya menawarkan value added service bahkan tanpa modal peralatan sama sekali.

Dan pelanggan pun puas, karena dengan skill yang mereka miliki dalam dunia fotografi serta pengerahuan mereka tentang obyek wisata di daerahnya, mereka bisa memberikan experience baru dari para pelanggannya. Tentu setelah dikemas dengan bahasa marketing yang cukup wow juga untuk ukuran anak kampung. Misalnya, mereka menawarkan jasa foto “dunia terbalik” dan foto bersama “pohon jomblo”. Bahasa marketingnya keren, dan membuat pelanggan penasaran. Terima kasih Syafii dkk yang telah mengajarkan kepada saya bagaimana menyikapi perubahan zaman dengan bijak.

Salam,
Hari

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*