adminch Oktober 9, 2017

Klaim prestasi Dwi Hartanto, seorang mahasiswa doktoral TU Delff, yang menggemparkan jagat Indonesia baru-baru ini membuat sebagian besar orang heran. Ada apakah gerangan sampai seorang calon ilmuwan mempunyai keberanian mengklaim apa yang tidak dilakukannya di muka publik, bahkan melibatkan media,  institusi, lembaga dan nama besar seseorang. Gejala demikian di dunia kedokteran disebut delusi atau waham kebesaran atau glandiose. Apakah itu?

Menurut situs kesehatan alodokter.com, delusi atau waham adalah suatu keyakinan yang salah karena bertentangan dengan kenyataan. Gangguan delusi merupakan salah satu jenis penyakit mental psikosis. Psikosis sendiri ditandai dengan ketidaksinambungan antara pemikiran dan emosi sehingga penderitanya kehilangan kontak dengan realitas sebenarnya. Dunia bagi penderita delusi akhirnya lebih mirip realitas maya atau Virtual Reality (jleb!).

Kesadaran Palsu

Pada gangguan delusi, penderitanya memiliki kesadaran palsu dari pemaknaan kenyataan yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Walau sudah jelas terbukti bahwa apa yang diyakini penderita berbeda dengan kenyataan, penderita tetap berpegang teguh pada pemikirannya. Penderita umumnya tidak mau membicarakan delusinya kepada orang lain karena mereka yakin bahwa apa yang menjadi delusinya merupakan sesuatu yang unik dan mungkin tidak dapat diterima atau dipahami orang lain.

ilustrasi, superman

Penyebab gangguan ini belum diketahui secara pasti, namun ada beragam faktor pendorong, antara lain faktor keturunan atau genetika, faktor biologis, maupun faktor lingkungan atau psikologis. Ada kecenderungan bahwa gangguan delusi dapat terjadi pada orang yang memiliki riwayat gangguan delusi atau skizofrenia di dalam keluarga. Stres serta penyalahgunaan obat-obatan maupun mengonsumsi minuman beralkohol berlebihan juga dapat memicu gangguan delusi. Selain itu, ketidaknormalan fungsi otak, seperti pada penderita penyakit Parkinson, Huntington, demensia, stroke, serta kelainan kromosom, juga memicu terjadinya gangguan delusi.

ilustrasi, high tech achiever

Gangguan delusi dibagi ke dalam beberapa jenis berikut, yaitu:

  • Waham kebesaran (Grandiose), yaitu memiliki rasa kekuasaan, kecerdasan, atau identitas yang membumbung tinggi. Menurut http://www.etymonline.com, kata glandiose serapan dari bahasa Perancis dan sudah dikenal sejak tahun 1828  yang artinya “megah”, “mengesankan, sangat berpengaruh”. Penderita waham ini meyakini bahwa dirinya telah melakukan suatu penemuan penting atau memiliki talenta yang hebat. Selain itu, penderitanya juga bisa meyakini bahwa dirinya memiliki kemampuan spesial atau memiliki relasi khusus dengan figur yang hebat, misalnya hubungan dengan presiden, tokoh terkenal atau selebritas terkenal. Padahal kenyataannya tidak demikian. Kasus yang baru-baru ini heboh dimana seorang peneliti muda mengaku lulusan institut top markotop dari Jepang, dapat beasiswa dari Belanda, melakukan berbagai riset menakjubkan, mempunyai hak paten teknologi, memenangkan lomba desain teknologi canggih, jadi direktur perusahaan aerospace high-tech, mengembangkan teknologi pesawat siluman terbaru, bahkan merasa diistimewakan oleh seorang yang terkenal di iptek kedirgantaraan merupakan contoh kasus yang menarik yang menunjukkan adanya gejala grandiose.
  • Erotomania, yaitu meyakini bahwa dirinya sangat dicintai oleh seseorang tertentu. Sering kali terjadi, orang yang menjadi objek delusi adalah orang-orang terkenal atau berkedudukan penting. Penderita umumnya menguntit dan berusaha melakukan kontak kepada objek delusinya. Kasus-kasus demikian sering ditemui pada para selebritas yang diganggu oleh fans atau seseorang yang menguntitnya kemana saja dia pergi. Sampai akhirnya mungkin saja akan membahayakan si artis. Sandra Bullock misalnya, artis cantik Hollywood melaporkan ke polisi dua orang yang selalu menguntitnya di tahun 2003. Bahkan salah satu penguntit itu berani melompat pagar dan masuk ke rumah bintang film Speed itu.
  • Waham kejar (Persecutory), yaitu merasa terancam karena yakin bahwa ada orang lain yang menganiaya dirinya, memata-matai, atau berencana mencelakainya. Di era internet, dengan kamera dimana-mana, smarthphone dan Notebook justru dicurigai menjadi sumber masuknya pengawasan yang tidak sah. Merasa dimana-matai di zaman ini pun terjadi pada siapa saja, bahkan seringkali menjadi kocak kalau tidak menyadari apa masalahnya. Ada yang merasa telponnya disadap, akun Twitternya diawasi, Facebooknya disadap dll. Sebagian mungkin benar karena hampir seluruh komunikasi di Internet sebenarnya tidak steril kecuali melalui jaringan pribadi. Kasus Snowden dan Wikileak menunjukkan kalau ada beberapa pemerintah di dunia yang menyadap segala aktivitas dunia maya. Makanya di  di zaman kini banyak orang yang tidak sadar mengidap delusi persecutory atau merasa terancam.
  • Waham cemburu. Pada jenis delusi ini, penderita percaya bahwa pasangannya tidak setia kepada dirinya, padahal tidak didukung dengan fakta apa pun. Apalagi di era internet dengan Facebook, BBM, Whatsapp dan sarana komunikasi pribadi lainnya, kecemburuan dapat tumbuh karena satu sama lain pasangan tidak lagi mempercayai hanya gara-gara foto selfie yang nampak mesra dengan seseorang. Banyak kasus perceraian baru-baru ini akibat Whatsapp boleh jadi indikasi munculnya masyarakat delusional tipe pencemburu ini.
  • Campuran. Pada kasus ini, penderita delusi mengalami dua jenis gangguan delusi atau bahkan lebih banyak dari itu.

Disebut gangguan delusi apabila gejala delusi berlangsung setidaknya satu bulan. Gangguan ini dapat bertahan dalam beberapa bulan, namun bisa juga bertahan lama dengan intensitas yang datang dan pergi.

Pada beberapa kondisi, gejala delusi juga dapat disertai dengan halusinasi. Halusinasi adalah persepsi sensorik terhadap stimulus yang tidak ada atau dengan kata lain melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Misalnya, orang yang memiliki delusi merasa bahwa organ tubuhnya sedang membusuk bisa disertai halusinasi berupa mencium bau busuk yang sebenarnya tidak ada atau merasakan sensasi lainnya yang berkaitan dengan delusinya.

Sebenarnya, kasus gangguan delusi sendiri cukup jarang dijumpai. Delusi yang dialami seseorang bisa merupakan gejala dari gangguan mental psikosis pada tahap yang lebih serius. Oleh karena itu, dalam memeriksa pasien yang mengalami delusi, dokter juga biasanya mengevaluasi kemungkinan penyakit lain yang lebih umum terjadi, seperti skizofrenia, gangguan mood atau suasana hati, atau masalah medis yang bisa menimbulkan gejala delusi.

Beberapa Statemen Delusi Grandiose Dwi Hartanto

Contoh pengakuan-pengakuan glandiose Dwi Hartanto di beberapa media sebelum bulan September ((Ctt. sebagian besar berita tentang Dwi Hartanto di media-media Indonesia sebelum kebohongannya terbuka mengilang dari peredaran di dunia maya).

Dwi, Roket TARAv7, dan merah putih

“Teknologi wahana ini untuk memperbaiki atau menggantikan teknologi yang sudah ada. Ini memang proyek besar dan ambisius namun feasible, melibatkan berbagai organisasi dan kementerian besar di Belanda,” ujar Dwi kepada detikcom di Delft, Jumat (12 Juni 2015). Berita pertama dari Detikcom yang mengekspose Dwi Hartanto.

“Hasilnya adalah rancangan roket jenis 3 tingkat yang menggunakan hybrid engine serta dilengkapi dengan sistem aerodinamik aktif dan sistem komputer serta kendali roket modern,” imbuh Dwi. Jumat (12 Juni 2015). Berita pertama dari Detikcom yang mengekspose Dwi Hartanto.

Gangguan-gangguan itu misalnya perubahan arah angin yang masif dan tiba-tiba, perubahan dan keadaan lapisan-lapisan atmosfir, medan magnet dan ganguan-ganguan lain,” terang Dwi menjelaskan sistem aerodinamika aktif. Jumat (12 Juni 2015). Berita pertama dari Detikcom yang mengekspose Dwi Hartanto.

“Beberapa kali Profesor dan beberapa kolega dari Kementerian Pertahanan Belanda bercanda dengan saya agar berganti paspor saja, supaya memudahkan segala urusan, salah satunya adalah akses untuk keluar-masuk military test facility,” kisah Dwi. Jumat (12 Juni 2015). Berita pertama dari Detikcom yang mengekspose Dwi Hartanto.

“Tidak satu pun dapat menghalangi putra-putri bangsa Indonesia untuk terus maju dan berani bermimpi besar dalam bidang-bidang yang diminati, tidak juga status kewarganegaraan,” pungkas Dwi. Jumat (12 Juni 2015). Berita pertama dari Detikcom yang mengekspose Dwi Hartanto.

 ’Si penelepon bilang, bapak ingin bertemu. Saya sempat bingung, siapa bapak yang dia maksud,’’ cerita Dwi ketika ditemui setelah pembukaan Visiting World Class Professor, forum pertemuan diaspora dari berbagai negara, di Jakarta, Senin (19/12/2016) seperti dikutip Batampos.Com.

“Begitu liat nama peneliti dan kampus kurang dikenal, paper penelitian itu langsung di drop. Meski hasil penelitiannya terbilang unik. Karena itu penting melakukan joint research, untuk cari nama dulu,” ujar sarjana (S-1) lulusan Tokyo Institute of Technology, Jepang itu, dikutip SuaraKarya.id.

“Kompetisi tersebut menghadirkan topik-topik riset dengan teknologi tinggi. Bahkan, tahapan seleksi masuknya juga tidak mudah. Sebelum masuk ke tahap final di Cologne, para ilmuwan harus melewati tahap seleksi internal di masing-masing Space Agency,” ujar Dwi, dikutip dari https://indonesiaproud.wordpress.com/2017/06/23/dwi-hartanto-raih-prestasi-di-kompetisi-aerospace-tingkat-dunia-di-jerman/ , sumber asli : ristekdikti.go.id (26/05/17), batampos.co.id (22/12/16).

“Sesuai dengan judul, saya dan tim mengembangkan pesawat tempur modern yang disebut sebagai pesawat tempur generasi keenam atau 6th generation fighter jet. Hal ini berawal dari keberhasilan kami ketika diminta untuk membantu mengembangkan pesawat tempur EuroTyphoon di Airbus Space and Defence menjadi EuroTyphoon Next Generation,” tuturnya, dikutip dari https://indonesiaproud.wordpress.com/2017/06/23/dwi-hartanto-raih-prestasi-di-kompetisi-aerospace-tingkat-dunia-di-jerman/ , sumber asli : ristekdikti.go.id (26/05/17), batampos.co.id (22/12/16).

Doktor yang meraih titel Ph.D di Technische Univesiteit Delft, Belanda itu menjelaskan, saat ini perkembangan teknologi pesawat tempur memasuki level yang lebih tinggi, yakni era pertempuran pesawat abad baru. Untuk itu, Dwi mengembangkan mesin pesawat tempur modern yang disebut dengan hybrid air-breathing rocket engine. Teknologi baru ini, kata dia, mampu membuat pesawat melesat, baik di dalam jangkauan atmosfer bumi maupun jangkaun di luar atmosfer. “Sedangkan tipikal jet tempur generasi sebelumnya tidak dapat terbang seperti itu karena keterbatasan oksigen,” dikutip dari https://indonesiaproud.wordpress.com/2017/06/23/dwi-hartanto-raih-prestasi-di-kompetisi-aerospace-tingkat-dunia-di-jerman/ , sumber asli : ristekdikti.go.id (26/05/17), batampos.co.id (22/12/16).

Selama mempresentasikan inovasinya, Dwi memaparkan berbagai keunggulan pesawat yang sedang dikembangkan bersama timnya tersebut. Salah satunya, komponen pesawat berupa wing dan airframebody streamline aerodinamis dengan struktur yang solid untuk menunjang beragam manuver sulit. Hasilnya, banyak orang merasa penasaran, termasuk beberapa perwakilan dari Lockheed Martin dan NASA/JPL yang tertarik dengan teknologi ciptaannya. dikutip dari https://indonesiaproud.wordpress.com/2017/06/23/dwi-hartanto-raih-prestasi-di-kompetisi-aerospace-tingkat-dunia-di-jerman/ , sumber asli : ristekdikti.go.id (26/05/17), batampos.co.id (22/12/16).

“Bahkan sebelum saya sempat kembali ke tempat duduk, ada beberapa orang sedang menunggu dan menghampiri dengan raut muka sangat serius. Ternyata mereka tertarik dan menawarkan kerja sama strategis,” kenang alumnus Tokyo Institute of Technology itu. dikutip dari https://indonesiaproud.wordpress.com/2017/06/23/dwi-hartanto-raih-prestasi-di-kompetisi-aerospace-tingkat-dunia-di-jerman/ , sumber asli : ristekdikti.go.id (26/05/17), batampos.co.id (22/12/16).

Menurut dia, Indonesia memiliki potensi sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni untuk menguasai bidang teknologi tinggi. “Ajang ini salah satu pembuktiannya. Jadi jangan pernah pesimis, takut, apalagi berkecil hati apabila punya cita-cita yang tinggi, terutama yang berkaitan dengan program strategis kebangsaan untuk masa depan. Tetaplah menjadi pribadi yang ulet dan pantang menyerah,” tutup pria yang telah memegang tiga paten dalam bidang spacecraft technology itu. dikutip dari https://indonesiaproud.wordpress.com/2017/06/23/dwi-hartanto-raih-prestasi-di-kompetisi-aerospace-tingkat-dunia-di-jerman/ , sumber asli : ristekdikti.go.id (26/05/17), batampos.co.id (22/12/16).

’’Pak Habibie bilang, kalau pemerintah Belanda masih menawari lagi, saya disuruh melapor ke beliau. Nanti beliau yang menghadapi pemerintah Belanda,’’ kenang Dwi. dikutip dari https://indonesiaproud.wordpress.com/2017/06/23/dwi-hartanto-raih-prestasi-di-kompetisi-aerospace-tingkat-dunia-di-jerman/ , sumber asli : ristekdikti.go.id (26/05/17), batampos.co.id (22/12/16).

“Sesuai dengan judul dalam risetnya, saya dan team mengembangkan pesawat tempur modern yang disebut sebagai pesawat tempur generasi ke-6. Berawal dari keberhasilan saya dan tim saat diminta untuk membantu mengembangkan pesawat tempur EuroTyphoon di Airbus Space and Defence menjadi EuroTyphoon NG (Next Generation/yang sekarang dalam tahap testing tahap akhir) yang mempunyai kemampuan tempur jauh lebih canggih dari generasi sebelumnya dari segi engine performance, kecepatan, aerodinamik serta teknologi (avionik) tempurnya, Keberhasilan tersebut membawa saya dan team untuk meneruskan perkembangan teknologi pesawat tempur ke level berikutnya yang digadang bakal menjadi era pertempuran pesawat abad baru,” ia menjelaskan. Dikutip dari kaskus.com, sumber asli berita Liputan6 (5/7/2017) dan Gatra.com 4/6/2017.

“Keberhasilan tersebut membawa saya dan tim untuk meneruskan perkembangan teknologi pesawat tempur ke level berikutnya yang digadang bakal menjadi ‘era pertempuran pesawat abad baru’,” kata pria yang memperoleh gelar S1-nya dari Tokyo Institute of Technology, Jepang. Dikutip dari kaskus.com, sumber asli berita Liputan6.

“Terus terang ini bisa memacu saya untuk berkarya lebih banyak lagi dan bisa mengembangkan merah putih lebih tinggi lagi,” kata Dwi Hartono. Saat nama Dwi Hartono disebut untuk menerima penghargaan, terdengar teriakan “generasi penerus Habibie”, disertai tepuk tangan meriah dari kalangan masyarakat, teman-teman PPI dan juga beberapa pejabat KBRI. Dikutip dari Gatra.Com 20/8/2017

Ketika ditanya tentang pengalaman yang membanggakan ini, Dwi pun menambahkan: “Ada sesuatu yang menarik dari pengalaman ini, yaitu sesaat selepas presentasi, bahkan sebelum saya sempat kembali ke tempat duduk, ada beberapa orang sedang menunggu dan menghampiri saya dengan raut muka sangat serius yang sempet membuat saya bertanya-tanya dalam hati beberapa saat. Ternyata beberapa orang tersebut adalah perwakilan dari Lockheed Martin dan NASA/ JPL yang tertarik dengan teknologi yang sedang saya dan team kembangkan dan menawarkan kerjasama strategis untuk bersedia masuk dalam program transfer teknologi untuk membantu mengembangkan project di tempat mereka. Permintaan organisasi kedirgantraan dan perusahaan besar tersebut sedang didiskusikan di level internal ESA dan Airbus Defence and Space karena saya juga berafiliasi dengan perusahaan tersebut, yang notabe-nya adalah saingan dari Lockheed Martin, perusahaan pesawat tempur dari Amerika Serikat.” Dikutip dari  Gatra.com 4/6/2017.

Dwi punya sedikit pesan. “Sebenarnya kita punya potensi SDM yang sangat mumpuni untuk menguasai bidang teknologi tinggi, event ini salah satu pembuktiannya. Jadi jangan pernah pesimis, takut, apalagi berkecil hati apabila punya cita-cita yang tinggi. Apalagi cita-cita tersebut berkaitan dengan program strategis kebangsaan yang memang harus kita kuasai teknologinya untuk membawa kejayaan Ibu Pertiwi di masa depan. Tetaplah jadi pribadi yang ulet dan pantang menyerah!” katanya bersemangat. Dikutip dari Gatra.com 4/6/2017

Saya minta tolong di-hold dulu ya perihal berita saya, sebab dalam wawancara tersebut saya banyak sekali memberikan informasi mengenai beberapa project dan produk defense and military weaponry yang sangat sensitif. Project-project tersebut rencananya dirilis September oleh tim gabungan kami dari Airbus Defence and Space, ESA, dan Kementerian Pertahanan Belanda. Saya akan kasih tahu langsung begitu tanggal official release-nya sudah di-set dan definite.” ujar Dwi Hartanto di bulan Agustus kepada Kumparan.com .

Begitulah sederetan klaim Dwi Hartanto yang sempat di lontarkan ke media masa Indonesia selama tahun 2015 sampai Agustus 2017. Sampai akhirnya, semua itu terungkap bahwa klaim tersebut bohong dan delusif ketika KBRI Belanda mencabut penghargaan di tanggal 15 September 2017 dan Dwi Hartanto mengakui semua kebohongannya. 

Bagaimanakah nasib orang dengan gangguan delusional?

Prospek untuk orang dengan gangguan delusional bervariasi tergantung pada orangnya masing-masing dan  jenis gangguan delusi, dan keadaan kehidupan seseorang, termasuk ketersediaan dukungan terutama dari keluarga dan kemauan untuk tetap berobat dan meminum obat.

Gangguan delusi biasanya (berkelanjutan) mencapai kondisi kronis, tetapi ketika diterapi dengan baik, banyak orang dengan gangguan ini dapat menemukan bantuan dari gejala mereka. Beberapa orang sembuh sepenuhnya dan beberapa orang lain mengalami episode keyakinan delusional dengan periode remisi (kurangnya gejala).

Sayangnya, banyak orang dengan gangguan ini tidak mencari bantuan. Sulit bagi orang-orang dengan gangguan mental untuk mengakui bahwa mereka sedang “sakit mental”. Mereka juga mungkin terlalu malu atau takut untuk mencari pengobatan. Tanpa pengobatan, gangguan delusional bisa menjadi penyakit seumur hidup.

Oleh karena itu, bila Anda mengetahui orang terdekat Anda mengalami delusi atau Anda sendiri yang mengalaminya, jangan ragu untuk menjalani psikoterapi di psikiater. Terapi tersebut biasanya mencakup tiga metode, yaitu penenangan dengan segera agar penderita tidak membahayakan dirinya, terapi perilaku kognitif, serta obat-obatan antipsikotik.

sumber :

  • http://www.alodokter.com/penderita-gangguan-delusi-suka-meyakini-yang-aneh-aneh
  • http://doktersehat.com/gangguan-delusi/
  • http://www.alodokter.com/gangguan-kepribadian
  • https://www.sehatcenter.com/gangguan-penderita-delusi-adalah-antara-penyakit-dan-mimpi/
  • http://sakinahkreatif.blogspot.co.id/2014/06/v-behaviorurldefaultvmlo.html
Please follow and like us:

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.